Garut, idisionline.com – Keberadaan sebuah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasangrahan yang berlokasi dijalan Desa Pasangrahan, Kecamatan Sukawening Kabupaten Garut yang diketahui menjalankan kegiatannya terbilang sudah cukup lama.
Dikabarkan dalam tata kelolanya dinilai semerawut. Saat dapur jalankan aktifitas, kepala SPPG Syarif Hidayat, Ahli gizi dan akuntan dikabarkan tidak pernah hadir ditempat.
Ihwal tersebut terbukti saat awak media sambangi SPPG tersebut saat beraktifitas, Minggu (18/10/2026).

Kepala SPPG, Ahli gizi dan akuntan tidak berada dilokasi kegiatan yang seharusnya turut mengawasi kegiatan produksi MBG.
Ditemui sejumlah relawan dan asisten lapangan (Aslap) yang menyebut ke 3 staf vital BGN tersebut tidak ada.
“Kepala dapur, ahli gizi dan akuntan tidak ada, hanya ahli gizi yang datang tadi siang”, ucapnya.
Padahal sejatinya kegiatan masak MBG diawasi oleh 3 orang tersebut sesuai aturan ketat yang dikeluarkan BGN. Jika tidak kegiatan masak tidak bisa berlangsung.
Namun faktanya kegiatan masak di SPPG pasangrahan tetap berlangsung seolah abaikan kewajiban dan ketentuan yang sudah diatur
Diketahui SPPG pasangrahan yang berada dibawah naungan Yayasan Garut Reksa Semesta milik salah seorang komisioner KPU Jawa barat yang miliki 9 Dapur SPPG. Hal itu terungkap dari penjelasan para relawan.
“Dapur ini dibawah naungan Yayasan Garut Reksa Semesta milik bu Aneu komisioner KPU Jawa Barat. Miliki 9 dapur, 5 di Garut dan 4 di Bandung” ungkapnya.
Ditempat yang sama, Pengawas Yayasan Erwin mengelak Dapur tersebut milik komisioner KPU.
“Yayasan ini milik suami bu Aneu, ketua Yayasan bukan bu Aneu sebagai komisioner KPU”, kilahnya.
Lebih lanjut Erwin yang akrab disapa Benhur mengaku merasa kecolongan dan dibohongi.
“Saya merasa dibohongi dengan kejadian ini, baru tahu dari rekan rekan. Apalagi ada permainan kepala SPPG ikut mensuplay buah buahan secara ilegal”, imbuhnya.
Informasi yang berkembang dikingkup wilayah setempat, mengemuka bahwa Supplay bahan masakan dapur tidak melibatkan fotensi daerah setempat/UMKM, namun dimonopoli oleh koperasi milik yayasan Garut Reksa Semesta.
Praktik nakal yang diduga terjadi dan dilakukan oleh oknum yang difasilitasi gaji Negara itu dinilai patut dilakukan audit secara konperhenshif. Mitra BGN yang miliki dapur banyak seperti Yayasan Garut Reksa Semesta jangan sampai diasumsikan hanya raup untung besar tanpa indahkan aturan.
****Red







