LONDON, Idisi Online – Lembaga perbankan investasi global, Goldman Sachs, merilis laporan peringatan keras bagi pasar energi dunia. Di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian memanas, harga minyak mentah dunia diprediksi dapat meroket hingga menyentuh level $150 per barel. Lonjakan drastis ini menjadi skenario terburuk apabila jalur perdagangan maritim paling strategis di dunia, Selat Hormuz, mengalami gangguan distribusi yang berkelanjutan.
Selat Hormuz, yang memisahkan antara wilayah Oman dan Iran, bukan sekadar jalur pelayaran biasa. Wilayah sempit ini merupakan “jalur napas” utama bagi pasokan energi global. Berdasarkan data industri, sekitar 20 juta barel minyak per hari atau setara dengan 20% dari total konsumsi dunia melewati selat ini setiap harinya.
Analis Goldman Sachs, Daan Struyven, menekankan bahwa ketergantungan dunia pada jalur ini sangatlah tinggi. Jika terjadi gangguan signifikan, pasar tidak akan memiliki alternatif distribusi yang cukup untuk menggantikan volume minyak yang hilang dalam waktu singkat.
Dalam laporannya, Goldman Sachs membagi dampak gangguan ini ke dalam dua tahap kritis. Yang pertama yaitu gangguan jangka pendek, Jika terjadi hambatan distribusi selama satu bulan, harga minyak mentah diprediksi akan langsung melonjak sebesar $20 per barel dari harga pasar saat ini. Hal ini disebabkan oleh kepanikan pasar dan biaya asuransi pengiriman yang melambung tinggi. Kemudian kedua blokade berkelanjutan, apabila selat Hormuz tertutup total atau mengalami gangguan yang berkepanjangan, harga minyak Brent diperkirakan bakal menembus angka psikologis $150 per barel. Angka ini akan melampaui rekor tertinggi sejarah dan membawa dunia ke dalam periode energi mahal yang ekstrem.
Kekhawatiran ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan militer antara Israel dan Iran. Pasar keuangan kini tengah mengantisipasi kemungkinan adanya serangan terhadap fasilitas infrastruktur minyak Iran atau langkah balasan berupa penutupan Selat Hormuz oleh Teheran.
Meskipun beberapa negara anggota OPEC+ memiliki kapasitas cadangan (spare capacity) untuk meningkatkan produksi, Goldman Sachs menilai hal tersebut tidak akan efektif. Masalah utamanya bukan hanya pada jumlah produksi, melainkan pada logistik pengiriman. Tanpa akses melalui Selat Hormuz, minyak dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait akan terjebak dan tidak bisa mencapai pasar global di Asia dan Eropa.
Dampak domino dari kenaikan harga minyak ke level setinggi itu dipastikan akan sangat menghancurkan bagi ekonomi global yang saat ini masih dalam tahap pemulihan. Harga energi yang mahal akan langsung memicu inflasi besar-besaran di berbagai negara, meningkatkan biaya transportasi barang, dan menekan daya beli masyarakat secara signifikan. Bagi negara-negara importir minyak bersih, kenaikan ini akan memperlebar defisit perdagangan dan memaksa bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama guna meredam laju inflasi. Ketidakpastian ini menempatkan stabilitas ekonomi dunia pada titik yang sangat rawan, di mana keamanan jalur perdagangan energi kini menjadi penentu utama arah ekonomi di masa depan.
(Iwn)






