Berita

Aktivis Perempuan Dorong Literasi Informasi dan Jaga Persatuan Nasional

×

Aktivis Perempuan Dorong Literasi Informasi dan Jaga Persatuan Nasional

Sebarkan artikel ini

Jakarta, idisionline.com-Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks dan perkembangan ekosistem informasi digital yang sangat cepat, tantangan dalam menjaga kualitas informasi publik menjadi semakin signifikan. Fenomena penyebaran disinformasi, fitnah, dan hoaks (DFK) tidak hanya berdampak pada persepsi publik, tetapi juga berpotensi mempengaruhi stabilitas sosial dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Dalam konteks tersebut, penguatan literasi informasi menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga kualitas demokrasi dan ketahanan nasional di era digital.

Aktivis perempuan sekaligus mahasiswa Pascasarjana Magister Ilmu Komunikasi Politik, Ratu Nisya Yulianti, menilai bahwa dalam perspektif ilmu komunikasi politik, kebijakan publik yang bersifat strategis dan berdampak luas terhadap masyarakat kerap menjadi objek kontestasi narasi di ruang publik. Hal ini terutama terlihat dalam berbagai diskursus digital yang berkaitan dengan program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam implementasi agenda pembangunan nasional yang terangkum dalam kerangka Asta Cita.

Salah satu program yang saat ini menjadi perhatian publik adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dirancang sebagai bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Program tersebut memiliki orientasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak, pelajar, serta kelompok rentan seperti ibu hamil dan ibu menyusui, sebagai fondasi penting dalam membangun generasi yang sehat, produktif, dan kompetitif di masa depan.

Secara empiris, berbagai laporan media nasional menunjukkan bahwa program Makan Bergizi Gratis telah mulai diimplementasikan secara bertahap oleh pemerintah sejak awal masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola melalui koordinasi lintas kementerian serta dukungan institusi seperti Badan Gizi Nasional, yang bertugas memastikan distribusi program berjalan secara efektif dan tepat sasaran. Pemerintah juga menempatkan program ini sebagai salah satu prioritas kebijakan publik yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045.

Info Lainnya  Reses di Ciampel, Endang Sodikin Serap Aspirasi, Warga Apresiasi Kehadiran Ketua DPRD Karawang

Namun demikian, dalam realitas komunikasi politik kontemporer, implementasi kebijakan publik tidak hanya berlangsung dalam ranah administratif dan birokrasi, tetapi juga dalam arena komunikasi publik yang dipengaruhi oleh berbagai aktor, kepentingan, dan dinamika opini masyarakat. Dalam situasi tersebut, munculnya berbagai narasi disinformasi, fitnah, maupun hoaks yang menyasar kebijakan pemerintah menjadi fenomena yang tidak dapat diabaikan.

Menurut Ratu Nisya Yulianti, dalam kajian komunikasi politik modern, fenomena disinformasi sering kali muncul sebagai konsekuensi dari terbukanya ruang komunikasi digital yang memungkinkan setiap individu menjadi produsen sekaligus distributor informasi. Dalam kondisi ini, informasi yang beredar tidak selalu melalui proses verifikasi yang memadai, sehingga membuka peluang bagi munculnya distorsi informasi yang dapat mempengaruhi persepsi publik secara luas.

“Dalam perspektif akademik ilmu komunikasi politik, disinformasi bukan sekadar persoalan kesalahan informasi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi komunikasi tertentu yang berpotensi mempengaruhi opini publik dan legitimasi kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki kapasitas literasi informasi yang memadai agar mampu melakukan verifikasi, evaluasi, serta interpretasi informasi secara kritis,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa dalam situasi geopolitik global yang penuh ketidakpastian termasuk meningkatnya tensi konflik di berbagai kawasan dunia stabilitas domestik menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pembangunan nasional. Dalam konteks ini, ekosistem informasi yang sehat memiliki peran strategis dalam menjaga kohesi sosial serta memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Dalam kerangka tersebut, Ratu Nisya menilai bahwa dukungan terhadap program-program strategis pemerintah tidak harus dimaknai sebagai sikap yang menutup ruang kritik, melainkan sebagai upaya untuk memastikan bahwa diskursus publik berlangsung secara rasional, berbasis data, dan tidak terdistorsi oleh informasi yang tidak terverifikasi. Kritik yang konstruktif dan berbasis fakta justru merupakan bagian penting dari praktik demokrasi yang sehat.

Info Lainnya  Pratu Zeni Marpaung,Gugur Saat Evakuasi Korban Longsor Sumbar Dimakamkan di Sei Rampah

Sebagai aktivis perempuan, ia juga menyoroti pentingnya peran perempuan dan generasi muda dalam membangun budaya literasi informasi di tengah masyarakat. Dalam berbagai studi komunikasi politik, kelompok perempuan dan pemuda sering kali menjadi agen sosial yang efektif dalam proses diseminasi nilai-nilai literasi media, terutama dalam lingkungan keluarga dan komunitas.

“Perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran literasi informasi di tingkat komunitas. Ketika perempuan memiliki kemampuan untuk memverifikasi informasi secara kritis, maka proses penyebaran informasi yang sehat dapat dimulai dari lingkungan sosial terkecil, yaitu keluarga,” jelasnya.

Selain itu, generasi muda yang tumbuh dalam ekosistem digital juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kualitas ruang publik digital agar tidak dipenuhi oleh konten manipulatif yang berpotensi memecah belah masyarakat. Dalam konteks ini, penguatan literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, etika komunikasi, serta kesadaran terhadap dampak sosial dari penyebaran informasi.

Dengan demikian, menurut Ratu Nisya Yulianti, tantangan disinformasi di era digital harus dipahami sebagai persoalan multidimensional yang melibatkan aspek teknologi, sosial, politik, dan budaya. Oleh karena itu, penanganannya memerlukan pendekatan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, akademisi, masyarakat sipil, serta komunitas digital dalam membangun ekosistem informasi yang lebih sehat, rasional, dan bertanggung jawab.

Dalam kerangka komunikasi politik yang konstruktif, penguatan literasi informasi diharapkan dapat menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga kualitas demokrasi, memperkuat persatuan nasional, serta mendukung keberlanjutan program-program pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Idisi Online

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

news-1701

yakinjp


sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

ayowin

yakinjp id

maujp

maujp

sabung ayam online

sv388

taruhan bola online

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

sabung ayam online

judi bola online

sabung ayam online

judi bola online

slot mahjong ways

slot mahjong

sabung ayam online

judi bola

live casino

sabung ayam online

judi bola

live casino

slot mahjong

118000556

118000557

118000558

118000559

118000560

118000561

118000562

118000563

118000564

118000565

118000566

118000567

118000568

118000569

118000570

118000571

118000572

118000573

118000574

118000575

118000576

118000577

118000578

118000579

118000580

118000581

118000582

118000583

118000584

118000585

118000586

118000587

118000588

118000589

118000590

118000591

118000592

118000593

118000594

118000595

118000596

118000597

118000598

118000599

118000600

118000601

118000602

118000603

118000604

118000605

118000606

118000607

118000608

118000609

118000610

118000611

118000612

118000613

118000614

118000615

118000616

118000617

118000618

118000619

118000620

118000621

118000622

118000623

118000624

118000625

118000626

118000627

118000628

118000629

118000630

128000621

128000622

128000623

128000624

128000625

128000626

128000627

128000628

128000629

128000630

128000631

128000632

128000633

128000634

128000635

128000636

128000637

128000638

128000639

128000640

128000641

128000642

128000643

128000644

128000645

128000646

128000647

128000648

128000649

128000650

128000651

128000652

128000653

128000654

128000655

128000656

128000657

128000658

128000659

128000660

128000661

128000662

128000663

128000664

128000665

128000666

128000667

128000668

128000669

128000670

128000671

128000672

128000673

128000674

128000675

128000676

128000677

128000678

128000679

128000680

128000681

128000682

128000683

128000684

128000685

128000686

128000687

128000688

128000689

128000690

128000691

128000692

128000693

128000694

128000695

138000421

138000422

138000423

138000424

138000425

208000296

208000297

208000298

208000299

208000300

208000301

208000302

208000303

208000304

208000305

208000306

208000307

208000308

208000309

208000310

208000311

208000312

208000313

208000314

208000315

208000316

208000317

208000318

208000319

208000320

208000321

208000322

208000323

208000324

208000325

208000326

208000327

208000328

208000329

208000330

208000331

208000332

208000333

208000334

208000335

208000336

208000337

208000338

208000339

208000340

208000341

208000342

208000343

208000344

208000345

208000346

208000347

208000348

208000349

208000350

208000351

208000352

208000353

208000354

208000355

208000356

208000357

208000358

208000359

208000360

208000361

208000362

208000363

208000364

208000365

208000366

208000367

208000368

208000369

208000370

news-1701