Oleh : Kang Oos Supyadin SE., MM, Ketua Dewan Adat Sunda (DATSUN) Kabupaten Garut – MASDA JABAR
Garut, Idisi Online – Selasa (27/10/2026). Di Garut istilah Toya sudah dikenal dalam kaitannya dengan keberadaan Kampung Adat Dukuh Kecamatan Cikelet, yang menurut Kuncen terdahulunya bahwa wilayah adatnya diapit oleh dua Toya yaitu Cipasarangan dan Cimangke. Toya yang dimaksudkan adalah aliran sungai besar yakni Sungai Cipasarangan dan Sungai Cimangke.
Panjang aliran sungai Cipasarangan adalah 22 kilometer, yang mana anak-anak sungainya bermula dari daerah dengan ketinggian sekitar 1.060 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan puncak hulu sungai dari Gunung Ragas, lalu menyatu di Cipasarangan pada ketinggian sekitar 540 mdpl (di sekitar wilayah Desa Linggamanik). Sedangkan panjang aliran sungai Cimangke sekitar 20 kilometer.
Dalam ruang kebudayaan Sunda (Kesundaan), istilah toya dapat dibedah menjadi dua dimensi utama yang berbeda, yaitu sebagai unsur bahasa/kosakata kuno yang bermakna air, serta sebagai perkakas atau senjata tongkat dalam seni bela diri (Penca Silat).
Berikut ini dijelaskan secara mendalam mengenai kedua arti istilah toya dalam ruang kesundaan :
A. Toya sebagai Elemen Kosakata Sunda Kuno
Dalam aspek kebahasaan, toya berarti air.
1. Akar Kata: Kata ini diserap dari bahasa Sanskerta (toya) yang berarti air atau cairan. Kata ini diserap ke dalam bahasa Jawa Kuno, Jawa Krama, serta terekam dalam Kamus Kuno Sunda.
2. Penggunaan dalam Budaya Sunda: Meskipun dalam percakapan Sunda sehari-hari air disebut cai, istilah toya kerap muncul dalam naskah-naskah kuno (buhun), susunan nama diri, gelar, serta lirik kesenian tradisi Jawa Barat seperti Tembang Sunda Cianjuran. Salah satu contohnya adalah tembang klasik berjudul “Toya Mijil” yang bermakna “air yang keluar/memancar”.
3. Makna Filosofis: Sebagai air, toya mencerminkan pandangan hidup orang Sunda yang sangat lekat dengan alam (ekosentrisme Sunda). Air adalah simbol kesucian, kelenturan hidup, pembersihan jiwa, dan sumber kemakmuran bagi masyarakat agraris (Tatar Sunda).
B. Toya sebagai Senjata/Alat dalam Penca Silat Sunda
Dalam dimensi ragawi dan seni ketangkasan, toya adalah senjata berupa tongkat panjang yang umumnya terbuat dari rotan, bambu, atau kayu keras (seperti aren atau besi).
1. Fungsi Asal: Pada mulanya, tongkat panjang ini merupakan alat bantu sehari-hari masyarakat agraris Sunda, baik sebagai alat bantu berjalan melintasi perbukitan (teteken) maupun sebagai pemikul hasil bumi.
2. Transformasi Bela Diri: Dalam tradisi Penca Silat (termasuk aliran-aliran silat di Jawa Barat seperti Panglipur atau Cikalong), fungsi praktis tongkat ini diadopsi menjadi teknik bela diri. Penggunaan toya mengajarkan seorang pesilat atau jawara untuk memanfaatkan benda-benda sederhana di sekelilingnya sebagai sarana perlindungan diri.
3. Karakter Gerak: Berbeda dengan senjata tajam seperti golok atau kujang yang bersifat menyerang langsung, penggunaan toya dalam penca silat Sunda lebih menekankan pada gerakan memutar, menangkis, mengunci, dan menjaga jarak, yang mencerminkan karakter pertahanan yang kokoh namun tetap fleksibel.
Kesimpulan
Membuka istilah toya dalam ruang kesundaan mempertemukan kita pada dua falsafah hidup masyarakat Sunda:
1. Kelenturan spiritual dan kesucian diri yang disimbolkan oleh air (toya), serta ketangkasan fisik dan perlindungan diri yang direpresentasikan oleh tongkat (toya) dalam seni penca silat. keduanya berjalan beriringan membentuk identitas manusia Sunda yang harmonis dengan alam serta siap menjaga diri.
2. Pada sebagian masyarakat Sunda istilah Toya itu sendiri dijadikan semacam tradisi tentang tata lingkungan air, seperti Tradisi Tepung Toya di Kabupaten Indramayu. Dalam kebudayaan Indramayu, Tepung Toya atau yang sering disebut juga sebagai Ritual Tepung Toya atau Ngawor Kidung Tepung Toya merupakan sebuah prosesi adat penyucian air (ruatan) yang melambangkan rasa syukur, tolak bala, dan permohonan keberkahan kepada Sang Pencipta.
Semoga tulisan ini bermanfaat. Rahayu
Membuka Istilah Toya Dalam Kesundaan













