KAB. BANDUNG, Idisi Online – Minggu (25/10/2026). Kegiatan Milangkala ke-70 Daya Mahasiswa Sunda (DAMAS) Kabupaten Bandung berlangsung meriah.
Acara dimeriahkan dengan pagelaran Budaya Sunda dan adu ketangkasan domba tingkat Kabupaten Bandung yang dipusatkan di Desa Baros, Kecamatan Arjasari.
Acara tersebut dihadiri oleh Ketua KNPI Kabupaten Bandung beserta jajaran, Keluarga besar DAMAS Kabupaten Bandung hadir Ketua Damas, Neng Rika Siska Putri didampingi Ketua Panitia Pelaksana, Rio Prazaka beserta kawan-kawan, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bandung, Camat Arjasari beserta jajaran, Kepala Desa Baros, tokoh masyarakat, tokoh budaya di Arjasari, serta tokoh pemuda.

Pembukaan acara dilakukan oleh Kepala Desa Baros, Kecamatan Arjasari, Asep Saepudin, S.Pd., dilanjutkan dengan sambutan dari Camat Arjasari, Dian Wardiana, S.I.P., M.Si., M.P.
Dalam sambutannya, Camat Arjasari mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran kepanitiaan sehingga kegiatan dapat terlaksana di Desa Baros, Kecamatan Arjasari.
“Semoga dalam pelestarian budaya Sunda ini dapat bermanfaat khususnya untuk warga masyarakat juga untuk kemajuan Kabupaten Bandung,” ujarnya.
Pembukaan secara resmi dilakukan langsung oleh Ketua Umum DPD KNPI Kabupaten Bandung yang sekaligus merupakan sesepuh dari DAMAS, Rifki Fauzi, SE.
Dalam kesempatan tersebut, jajaran pemerintahan, tokoh masyarakat, tokoh budaya, ormas, serta DAMAS menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta ketangkasan domba tingkat Kabupaten Bandung.
“Kegiatan ini merupakan wujud nyata dalam rangka ngamumule (melestarikan) Budaya Sunda, hasil kolaborasi antara KNPI Kabupaten Bandung dengan Daya Mahasiswa Sunda (DAMAS) serta kerja sama dengan BUMDes Desa Baros, Kabupaten Bandung.” Ujar Rifki.
Lebih lanjut, Rifki menyampaikan, “Sebagai simbol, pada acara ini dilakukan prosesi peletakan batu pertama (Munggaran) untuk Sekretariat DAMAS Kabupaten Bandung. Harapannya, DAMAS Kabupaten Bandung semakin maju dan solid”, ucapnya.
Acara dilanjutkan dengan kegiatan sosial berupa santunan kepada anak yatim piatu dan penyerahan simbolis tawis soca katineung (tanda mata kenang-kenangan).
Kegiatan ini diharapkan dapat menggugah semangat para pemuda untuk terus melestarikan budaya, ngaraketkeun duduluran (mempererat persaudaraan) antar peserta dan seluruh masyarakat melalui tradisi botram (makan bersama).
Panitia juga menyediakan layanan cek kesehatan gratis untuk domba yang dipertandingkan, sebagai bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan hewan.
“Semoga banyak manfaatnya untuk kita semua,” tutup panitia.
Tim Redaksi, Angghani
Editor: Redaksi













